Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

10.28.2013

Rayuan si Maniak seks dunia maya - bagian- 3 (tamat)

The Featherman datang lagi. 

Semalaman Susan tidak bisa tidur. Firasatnya mengatakan bahwa The Featherman akan muncul, sehingga dia
pergi mengunjungi ibunya dan pulang pada tengah malam. Dugaan Susan benar, namun tindakannya salah.
Susan kembali ke rumah pukul 23.30 di tengah hujan deras. Ia berjalan melewati taman dan masuk dalam rumah. Ketika ke dapur untuk mengambil minuman, betapa kagetnya ia saat menengok ke luar jendela, tampak seorang laki-laki duduk di kursi dibawah pohon apel.

Ternyata  Bill Chandler telah sampai di rumah itu sekitar pukul 19. Bill sangat yakin Susan ada di rumah. Kalaupun pergi, tidak lama, dan dia akan menunggu.
Susan merasa sangat takut dan berpura-pura tidak melihat Bill. Ia memaksakan diri tidur. Tak lama kemudian Bill mengetuk pintu. Susan diam. Bill memanggil Susan beberapa kali. Awalnya sangat lembut. Namun lama-lama ketukan berubah menjadi gedoran, dan suara Bill semakin nyaring. Lalu terdengar suara pintu ditendang. “bisakah kamu membuka pintu ini?! Saya hanya perlu bicara!” teriak Bill.

Denga ketakutan, Susan meminta Bill pergi. Bill tidak merespons. Dia malah memukuli pintu dengan tangannya. Susan semakin ngeri. Dia pun  menghubungi 999 dan meminta polisi dating secepatnya karena ada penyusup di rumahnya. Susan merasa sedikit aman karena polisi sedang menuju rumahnya. Dia juga meninggalkan telepon dalam keadaan  terangkat . berharap operator bisa mendengar kejadian di rumahnya. Akhirnya Susan meberanikan diri membuka pintu untuk berbicara dengan Bill. Susan ambruk dan kepalanya membentur wadah penyimpanan batubara. Bill mendekat, mencekik leher Susan, dan memukulnya lagi. Berharap agar Bill menghentikan tindakannya, Susan berkata bahwa polisi akan datang. Tapi upayanya sia-sia. Bill sudah menedangi Susan beberapa kali. Setelah beberapa tamparan, dia pun pergi sambil mengucapkan kata-kata kasar.

Tak berani mengajukan tuntutan.
Emsworth adalah desa kecil yang kuno. Kejahatan jarang terjadi disana. Tak ada aparat keamanan menetap. Kantor polisi paling dekat berjarak sekitar 32 km, di daerah Chickester atau Cosham, di pinggir bagian Utara Portsmouth. Kecuali lalu lintas, polisi sesekali saja berpatroli, sehingga waktu respon mereka bisa 10 menit.

Tapi dua kenderaan polisi tiba empat menit setelah susan menelepon. Tak kurang dari enam unit lainnya melesat menyusul. Namun, karena rumah Susan berdampingan dengan bangunan lain dan berada di dalam taman berdinding  yang benar-benar tertutup, maka polisi hanya bisa masuk melalui pintu ujung gang yang jarang digunakan. Akibatnya, perlu waktu beberapa menit lagi bagi polisi untuk masuk ke dalam rumah Susan.

Tubuh Susan berlumuran darah. Ia histeris. Seorang anggota polwan butuh waktu satu jam untuk menenangkannya. Mobil ambulans dihubungi. Luka-luka di sekujur tubuh Susan tidak terlalu parah sehingga tim medis bisa mengobatinya di lokasi.
Seluruh Emsworth dikitari polisi. Hanya dua jam jalan utama di desa itu, sehingga tak sulit bagi polisi untuk menemukan Bill Chandler.

Bill ditahan pada pukul 1.30 dini hari saat mencoba mencari tumpangan. Dia menghabiskan semalaman di kantor polisi Cosham sementara polisi meminta keterangan dari Susan Gray.
Susan terpikir tentang ancaman Bill. Susan takut Bill akan mengungkap semua perilaku seksnya di media atau di pengadilan seandainya dia mengajukan tuntutan.

Akhirnya Bill bebas. Setelah peristiwa itu, Bill dilaporkan menyerang dan memperkosa perempuan berusia 26 tahun di Wales. Polisi South Wales menerima laporan tentang seorang remaja dilarikan ke rumah sakit setelah diperkosa dan dipukuli oleh  seorang laki-laki Amerika yang berciri-ciri fisik sama dengan Bill Chandler. Walau bagitu, perempuan muda itu juga tidak mengajukan tuntutan. Polisi menyatakan, tak ada yang bisa mereka lalukan.

Bill juga dilaporkan memperkosa perempuan berusia 18 tahun dari Poole, Inggris, yang didapatnya dari Absolute Agendy juga. Polisi setempat mengatakan, “ kami menangani seluruh pengaduan semacam ini dengan sangat serius. Sayangnya, jika korban merasa tak bisa membuat pernyataan resmi tak banyak yang bisa kami lakukan.”
Namun secercah harapan diberitakan FBI. “kami tahu tuan Chandler. Dia punya catatan kejahatan di Amerika Serikat. Jika polisi Ingggris memiliki bukti bahwa pria ini sudah melakukan penyerangan seksual serius, kami akan berterima kasih atas informasi itu, dan dia bisa diekstradisi untuk menghadapi peradilan di Inggris.”

Setelah peristiwa mengerikan itu, Susan tidak pernah lagi berkencan dengan siapapun. Di situs Absolute Agency Susan masih melihat Bill dengan nama berbeda. Susan mencoba memperingatkan para perempuan yang ad asana, tetapi tak ada yang percaya. Mereka menyangka Susan hanya cemburu sehingga menyebarkan berita bohong.

Kepada para perempuan yang kini menggunakan chatroom dan internet untuk mencari cinta, Susan menasehati, “berhati-hatilah, sebab pengalaman ini sudah menghancurkan kehidupan saya. Saya berharap pasangan diluar sana hidup bahagia dan baik-baik saja.” (“Susan Gray and ‘The Feachtherman’”, Killers on The Web, Chrisopher Berry-Dee dan Steven Morris, 2006)

Rayuan si Maniak seks dunia maya - bagian- 2

Cokelat Mars dan Masturbasi

Bill tahu, Susan sngat kagum pada dirinya. Pada  suatu kesempatan chatting, Bill menawarkan sebuah kue cokelat kepada Susan. Hanya untuk Susan. “Kamu bisa memainkannya dengan cara apapun yang kamu mau”. Ujar Bill seraya menyebutkan merk cokelat tersebut, Mars.
Meski tawaran itu mengundang beberapa komentar cabul dari perempuan lain yang bersaing mendapatkan perhatian Bill, Susan merasa sangat tersanjung. Perhatian yang amat besar dari seoarang idola.
Tak lama kemudian keduanya masuk ke Private Lounge situs tersebut. Pembicaraan mereka tak bisa diakses orang lain. Ketika keduanya kembali muncul di area umum, banyak orang bertanya-tanya dari mana mereka. Beberapa perempuan kesal.
Dibalik private, keduanya sering mengumbar obrolan bebrbau seks. Kadang itu disampaikan secara singkat, kadang pula menjadi cerita panjang dalam email sambungan.
Tiga bulan setelah saling kenal, Billmeminta susan membali kamera Web (webcam). Susan segera menurutinya. Bill telah menjadi separuh hidup Susan. Ia merasa sangat nyaman menghabiskan waktu untuk chatting dengan Bill. Mereka bahkan pernah membicarakan masa depan hubungan itu. Melalui kamera web, Susan memperlihatkan ruang makannya. Bill juga memperlihatkan rumahnya. Hubungan merekapun makin visual.
Pemakaian kamera web tidak lagi sederhana. Sebelum melakukan cyber sex, misalnya, Bill menagwali dengan pembicaraan yang menjurus porno. Misalnya dengan pertanyaan pancingan, apakah Susan pernah menonton film porno atau belum.
Sesuai permintaan Bill, Susan mansturbasi dengan cokelat Mars, sementara ditempat terpisah, Bill juga bermasturbasi.
Aktifitas cyber sex kian sering mereka lakukan. Pada sesi keempat Susan mengaku mengalami orgasme pertama untuk pertama kalinya dalam hidupnya. "fantastis”, katanya tanpa sungkan kepada Bill.
Bill menanggapi, karena bertahun-tahun tidak punya pacar, dia pun ingin menyenangkan Susan dan membuatnya sebanyak mungkin Orgasme.
Biasa, setelah itu mereka membersihkan diri lalu kembali chatting, membicarakan masa depan untuk hidup bersama.

Diperkosa, Disiksa, lantas  dikirimi bunga.

Pada awal september,nBill mengatakan kepada Susan bahwa dia akan ke Wales selama beberapa minggu
untuk urusan Bisnis. Dari Wales dia akan perg ke Timur Tengah. Susan usul agar Bill mengunjunginya di Emsworth dan tinggal disana. Bill setuju. Dia akan tiba lima hari lebih awal dari rencana ke Wales. Susan akan naik mobil ke Heathrow Airport untuk menjemput Bill.
Pada hari Kamis, 27 September, Bill Chandler (nama diubah demi alas an hokum) tiba di Inggris. Untuk member kesan yang menarik, Susan mengenakan baju dengan bagian atas terbuka, menonjolkan payudaranya. Dipadukan dengan rok kulit mini serta sepasang sepatu bot hitam selututyang belum lama dibelinya di Milan ketika mendapatkan hadiah jalan-jalan gratis setalah merebut gelar sales person terbaik di tempat kerjanya. Dengan rambut panjang keemasan yang natural, susan tampak memukau.
Namun menjelang  perjumpaan pertama Susan gugup. Untung Bill segera bisa mencairkan suasana dengan ciuman dan pelukan erat. Setalah itu mereka berkendara selama dua jam menuju rumah Susan.
Sesampainya di rumah, keduanya bertukar hadiah sambil minum sampanye. Susan telah mempersiapkan kebutuhan Bill seperti handuk dan sikat gigi. Ia bahkan mengosongkan satu lemarinya untuk pakaian Bill.
Tak sampai satu jam kemudian, keduanya sudah naik tempat tidur. Susan takluk kepada pacar maya yang sekarang menjadi nyata itu. “Bill lelaki sempurna,” katanya kemudian.
Di kamar, Susan menaruh cermin lebar pada dinding bagian kepala, dibagian kaki tempat tidur, juga di langit-langit. Ia menyalakan lilin di dekat tempat tidur dan menuliskan “I Love You” di cermin rias menggunakan lipstick.
Ia juga telah menulis jejak di kamar yang lain-kertas persegi dengan tanda panah-tempat dia menyembunyikan jam tangan mahal yang dibelinya di Italia untuk Bill. Jam tersebut sudah disetel sesuai waktu Georgia. Susan mendekorasi rumahnya sangat indah dan romantis.
Keesokan harinya mereka pergi jalan-jalan. Menelusuri jalanan kota Portsmouth. mengunjungiKastil Arundel, Menonton film, dan makan malam ke luar. Hari berikutnya mereka pergi ke Belanda atas desakan Susan dengan biaya yang ditanggung Bill.
Pada hari kelima yang juga malam terakhir mereka di tempat tidur, Bill ingin berhubungan seks dengan gaya berbeda. Dia ingin mengikat tubuh Susan dan mengambil beberapa foto seksi. Susan setuju karena ia sangat mempercayai Bill. Lagipula dia ingin menyenangkan Bill.
Kedua lengan Susan diikat dibelakang kepalanya. Bill kemudian mengangkangkan kaki dan mengikat masing-masing pergelangan kaki Susan.
Tiba-tiba Bill berubah liar. Dia cekik Susan dan memperkosanya dengan brutal. Susan tetntu saja terkejut dan ketakutan setengah mati.
Jari-jari Susan berupaya keras melepaskan cekikan Bill, namun ia malah mendapat bogem mentah diwajah sehingga gigi depannya rontok.
Tiga jam siksaan dan bentakan itu berlangsung. Susan hanya bisa menagis dengan  nafas sesak sambil menahan sakit. Tiba-tiba Bill menghentikan siksaannya. Ia memeluk Susan sambil memminta maaf. Dia membuka ikatan Susan, menggendongnya ke kamar mandi san memandikannya. Ia juga menbobati luka-luka Susan.
Bill menelepon taksi untuk membawanya ke London. Sebelum pergi ia mengancam, “jika kau menelepon polisi, aku akan menunjukkan bukti kepada mereka betapa pelacurnya kau. Aku punya semua email dan foto-fotomu. Jangan katakana apapun kepada siapa pun, karena aku akan kembali.”
Dua minggu setelah kejadian itu, Bill menelepon Susan dari Cardiff, Wales. Sambil menangis, Bill menyesali perbuatannya. Bill mengaku tidak pernah berbuat seperti itu sebelumnya. Dia berbuat kasar karena tak tahan dengan pakaian Susan yang sangat seksi. Bill bilang sangat mencintai Susan. “Dan apakah kau bisa menggosok pungguku lagi?’ rayunya.
Kemudian dating kiriman 20 tangkai mawar merah ke rumah Susan melalui perusahaan jasa Interflora. Melalui beberapa kali pembicaraan telepon, akhirnya Susan bersedia memaafkan Bill. Bill mengatakan bahwa dia sangat malu terhadap dirinya sendiri. Sambil menangis dia menyampaikan niatnya untuk membatalkan perjalanan ke Timur tengah dan ingin menemui Susan lagi. Hanya semalam, katanya, untuk memperbaiki segalanya. Susan pun menerima.
Keesokan paginya, Susan mengecek email dan masuk ke situs Absolute Agency untuk sekedar menyapa semua orang kemudian pergi. Ia tidak berharap bertemu Bill. Namun betapa kagetnya dia mendapati lelaki itu sedang ngobrol dengan perempuan lain yang berasal dari Poole di Dorset. Setelah membuat janji bertemu pada malam hari, Bill dan perempuan itu menghilang dari chatroom. Susan segera menelepon Bill, tetapi tidak diangkat. Pesan pendek (SMS) pun tidak dibalas. Susan terpaku. Hatinya berkecamuk amarah bercampur cemburu.
Ketika sudah bisa menenangkan diri, dia menulis pesan buat Bill. Isinya, Susan membatalkan semua kesepakatan karena dia akan pergi beberapa hari. Susan marah. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan Bill.
.... Bersambung

10.23.2013

Rayuan si Maniak seks dunia maya ( bagian 1)

Ini adalah sebuah kisah yang diambil dari majalah Intisari edisi bukan Oktober 2013 yang ditulis oleh Birgitta Ajeng, semoga bisa menjadi bahan renungan dan bacaan yang menginspirasi.  

Malam hari, Juni 2001, Carol mengunjungi rumah Susan Gray, 47 Tahun, sambil membawa beberapa botol anggur. Setelah makan malam, Carol bercerita tentang situs Absolute Agency. Carol adalah pengunjung rutin chatroom situs biro jodoh terbesar di dunia itu. Ia tahu beberapa pengunjung disana. Carol mengajak Susan jadi Anggota.”Kita bisa sedikit bersenang-senang,” kata Carol. Susan belum tertarik. Meskipun koneksi internet di rumahnya cepat, Susan tidak pernah mengunjungi situs semacam itu. Apalagi berbual di dunia maya. Di benak dia, internet adalah media untuk mencari informasi , tidak untuk berinteraksi. Lagi pula ia percaya, orang-orang yang suka berbual di chatroom tidak mempunyai kehidupan yang nyata.baginya, berkunjung ke chatroom adalah kegiatan yang tak masuk akal. Namun Carol terus membujuk. Setelah mengeruk lebih banyak anggur, Susan mulai terhasut. Dengan agak ragu ia mendaftarkan diri ke situs yang berbasis di Ukraina itu. Teryata proses pendaftaran sangat mudah. Apalagi bagi pendaftar perempuan. Tak ada pungutan biaya. Susan memilah nama “Susie Q”, dengan photo perempuan berambut pirang sebagai avatar.beberapa orang merespon. Ia mulai tertarik. 


The Featherman yang sopan

Ada satu lelaki yang menarik perhatian susan. Dia seorang warga Amerika Serikat yang disebut The Featherman . dimata Susan foto profilnya menggambarkan seorang laki-laki yang tampan , seksi dan menyenangkan. Seperti umumnya laki-laki lain di chatroom, the Featherman suka menggoda lawan jenis. Bedanya, The Featherman adalah idola para perempuan di chatroom. Kata Carol, lelaki itu memenag sangat terkenal. Dia seorang pengunjung rutin dan menjadi anggota tetap-dalam bahasa chatroom, dia punya
“cyber cred”. Sementara para pria lain hanya bisa chat selama 15 menit karena harus membayar.
Ini artinya The Featherman adalah pemain serius. Biaya tidak menjadi soal bagi dirinya.menurut Carol, seorang laki-laki yang terdaftar sebagai anggota tetapadalah kaum elit. Susan memang bahwa The Featherman termasuk lelaki pintar dan ucapannya tidak vulgar. Dia sopan dan menggunakan etika berbual di dunia maya. Rasa humornya juga tinggi; itu yang membuat Susan makin terpesona.


Tidak pernah mendapat Kepuasan Seks.
Susan, perempuan seksi bertubuh tinggi, berambut pirang, bermata biru, sudah tga kali gagal membina rumah tangga. Ia memamng perempuan pintar dan pemaaf. Namun ibu satu putra ini sangat posesif terhadap pasangan dan sangat pencemburu.
Selama menikah, ia mengaku tidak pernah mendapat kepuasan seksual. Itulah salah satu faktor kegagalannya berumah tangga.


Ketika bercerai, Susan dengan rapi mengepak semua barangnya dan mencari tempat tinggal lain. Ia selalu berpindah-pindah. Mulanya ke Fareham di Hamsphire, sebuah daerah dipantai n selatan inggris. Ia berbagi kamar dengan dua gadis lain diatas sebuah kafe di west street. Dalam 18 bulan, dia pindah lagi, dan pada tahun 2011 menyewa sebuah rumah dengan dua kamar di Emsworth, tidak jauh dari Hamsphire.
Rumah itu sangat bagus, berandanya sangat nyaman, ada perapian dan ruang makan, tempat ia meletakkan komputer kerjanya. Dapur menghadap ke taman. tiang menuju ke lantai atas sangat rendah sehingga orang harus berhati-hati dengan kepalanya. Kamar mandi dan toilet bisa dicapai melalui dapur.
Rumah ideal dikelilingi pagar yang tertutup rumput liar itu disewa Susan dengan harga  murah. Dengan penuh citarasa Susan mendekorasinya.


Susan bekerja sebagai agen penjualan dan promosi perusahaan nasional. Pekerjaannya yang baik memungkinkan dia memperoleh penghasilan 900 Euro perminggu, sudah termasuk komisi.
Rutinitas Susan termasuk sederhana. Dia bekerja lima hari seminggu. Kadang ia juga masuk pada hari sabt, kemudian belanja keperluan makan malam, lalu berjalan-jalan ke pinggir pantai untuk mencari angin segar. Pada hari Minggu, ia biasa memberi makan angsa-angsa di kolam air terdekat, kemudian berkendara untuk makan siang bersama ibunya.


Namun, setelah mengenal The Featherman, aktifitas Susan berubah. Ia menghabiskan waktu lebih lama di chatroom. Ia mulai pulang lebih awal dari kantor untuk mangakses Absolute Agency dan memastikan idola kaum perempuan itu ada. Jika tidak ada, Susan akan merasa sangat kecewa. Dia lantas bertanya kepada anggota lain, apakah lelaki itu sebelumnya ada, apakah ada yang tahu kapan dia akan kembali, dsb.
Ketika lelaki itu kembali, Susan harus berebut dengan perempuan lain untuk mendapatkan perhatiannya.kehadiran The Featherman sangat menghibur, dan di dalam hati ia memendam hasrat untuk memilikinya.


Waktu berjalan, interaksi Susan dan lelaki itu semakin sering. Jembatan komunikasi terbangun. Si lelaki mulai suka mengirim foto melalui email. Susan pun membalasnya. Ia juga mengirim foto diri lewat jaringan pribadi.
Ternyata lelaki itu lebih penddek dari Susan. Tinggi badannya hanya 175cm. Tubuhnya kurus, dan senyumnya terkesan nakal.
Dari pertukaran foto, mereka bertukar nomor telepon. Lelaki itu kemudian mengungkapkan nama aslinya, Bill. Kepada Susan dia mengatakan bahwa dia lajang, belum menikah dan orang Amerika.
Bill bekerja sebagai konsultan jaringan pipa yang melakukan perjalanan di seluruh dunia. Dia bisa pergi dari AS selama beberapa bulan, katanya kepada Susan. Namun tak jarang dia juga bekerja di kantor tak jauh dari rumahnya di Augusta, Gergia, AS.


Selain bertukar foto diri, mereka juga bertukar foto dan tempat tinggal. Dalam foto terlihat, rumah Bill memiliki halaman rumput yang terawat. Itu menunjukkan bahwa dia adalah laki-laki yang rapi dan bersih, salah satu ciri idaman perempuan.


Susan memiliki kesimpulan lebih tentang Bill. Dia adalah lelaki yang sangat jantan dan bisa menjaga diri karena sering bepergian. Bill sederhana. Dan yang membuatnya makin tertarik, Bill menciptakan rasa nyaman ketika chatting. Karena perbedaan waktu antara kedua negara, Susan sering berkomunikasi dengan Bill pada tengah malam.
....bersambung

7.14.2009

Selamat Jalan Tamique



Setelah berjuang 1 (satu) tahun melawan strook, akhirnya Tamique dipanggil Yang Maha Kuasa tepatnya setelah sholat Jum'at tgl 10 Juli 2009, selamat Jalan Tamique semoga amal dan kebaikanmu mendapat belasan dari Allah SWT. Inna lillahi wa inna Illaihi Roji'un.

11.05.2008

GUNUNG SAYANG

Membaca judul tulisan ini ada banyak persepsi yang dapat dibangun oleh pikiran kita, namun tidak halnya dengan masyarakat melayu. ‘Gunung sayang’ merupakan sebagian dari beberapa syair lagu melayu yang kini kian jarang terdengar. Sekalipun kata ‘Gunung Sayang’ di mesin pencari seperti google jarang ada tulisan yang membahasnya.

Namun bagiku ‘Gunung Sayang’ adalah tentang kehidupan masa kecil dan tentang pasang surutnya kehidupan keluarga suku Banjar, ya keluargaku.


‘GUNUNG SAYANG’ Gilingan Padi Nasional-Pribumi, kampung Tanjung Pasir-Pangkalan Susu. Itulah yang tertulis didepan sebuah bangunan kokoh yang berdiri menyambut kedatangan setiap masyarakat sekitar yang akan mengiling gabah hasil bercocok tanam mereka.
Masyarakat Desa Tanjung Pasir adalah masyakat pendatang bersuku Banjar yang berasal dari Tembilahan-Riau, terbagi menjadi dua bagian wilayah antara Persawahan dan pesisir pantai. Sehingga profesi sebagain Petani dan ada juga nelayan, namun bagi masyarakat Tanjung Pasir menjadi petani adalah pilihan utama mereka.

Demikian pula keluarga orang tuaku dan mereka petani yang ulet kehidupan sehari-hari nya tidak terlepas dari kubangan lumpur sawah, mereka semua adalah petani tadah hujan yang dalam mengolah pertanian hanya dapat menanen 1 kali dalam setahun, mereka belum mengenal yang namanya bibit unggul seperti IR atau yang lainnya. Apalagi ‘Supertoy’ yang dapat dipanen dalam waktu singkat (instant) sehingga mampu 3 kali dalam setahun yang akhirnya hanya janji kosong belaka. Semua serba masih alami. Begitu juga dengan traktor tangan ‘Jetor’ mereka belum pernah menjamah.
Seiring perkembangan ekonomi yang kian membaik, Panen padi masyarakat desa yang melimpah, maka mereka mulai melirik untuk merambah usaha
baru yaitu penggilingan padi.
Usaha Penggilingan Padi (Kami lebih sering menyebut ‘Kilang Padi’) ini berdiri di tahun 70’an dan merupakan kilang padi yang pertama ada di Pangkalan susu sehingga semakin mendongkrak perekonomian keluarga juga turut semakin baik hingga tahun 1982.
Nama kilang padi ’Gunung Sayang’ diambil dari Judul lagu melayu ‘Gunung sayang’ kebetulan abah (ayah) ku yang masa mudanya adalah penggemar/pemain Orkes Melayu, beliau memainkan alat musik Biola sehingga pada saat mendirikan Kilang padi bersama saudara dan orang tuanya nama inilah yang menjadi pilihan.

Kilang padi ini mengalami relokasi sejak Pertamina di Wilayah ekplorasi Pangkalan Susu mulai menghasilkan minyak mentah yang disalurkan memalui Pipa baja besar berdiameter sekitar 45 cm melintas disepanjang jalan antara Pangkalan Susu hingga bermuara ke Ujung pantai (teluk Kerang) melalui desa tersebut.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan, akhirnya Pertamina merelokasi dan ganti rugi kepada semua masyarakat yang memiliki bangunan dan tanah yang dilalui aliran pipa minyak tersebut untuk menjauh 10 Meter dari jarak pipa minyak.

Tahun terus berganti, roda terus berputar kejayaan kilang padi ‘Gunung Sayang’ hanya berlangsung antara periode tahun 1970 -1982 saja. Sepeninggalnya Kakek berangsur giat kilang padi pun mulai kehilangan gairah, satu persatu kegiatan mulai berkurang. Pem
belian gabah yang biasanya dilakukan dengan membeli keluar kota guna memenuhi permintaan beras di pasar-pasar kec. Pangkalan susu, Medan dan kota lain, kini nyaris terhenti sehingga mengakibatkan pemasaran beras juga semakin berkurang. Masalah ini terus berlanjut hingga saat ini, kilang padi tidak ubahnya hanya gedung tua yang masih berdiri lesu. Deru mesin tidak segarang dulu lagi.

Demikian juga sawah-sawah yang luas yang dimiliki oleh keluarga ayahku yang selalu menghasilkan gabah yang berlimpah setiap tahun panen, kini hanya cerita saja. Sawah-sawah itu sekarang dikelola oleh orang yang tidak memiliki sawah (disewakan) dengan bayaran uang setiap panennya atau juga kadang dibayar dengan hasil gabah sesuai dengan kesepakatan bersama. Abah dan pakcik seperti kehilangan arah mengelola usaha mereka.
Banyak faktor penyebab. Salah satu yang sekarang bisa kuambil hikmah adalah tidak adanya majemen yang baik dalam pengelolaan keuangan, disamping itu generasi atau anak-anak dari ayahku tidak ada yang dibimbing untuk mengelola usaha tersebut. Kami (anak-anak ayahku) semua adalah orang-orang yang bekerja dengan orang lain bekerja pada perusahaan atau pegawai di Pemerintahan, demikian halnya dengan anak-anak Adik ayahku (pakcik) juga tak jauh berbeda.

Abahku kini sudah tiada (meninggal tahun 2003 dalam usia sekitar 66 Tahun), almarhum memiliki 4 (empat) orang saudara kandung, 2 orang meninggal dalam usia muda saat ini hanya tinggal adiknya saja (pakcik).

Aku hanya bisa merenung dan menjadi saksi akhir dari cerita ’Gunung Sayang’.



10.23.2008

Tamique (Episode IV-Habis), Tom, Tamique, Ir. Nurhaitami


Ir. Nurhaitami adalah nama asli dari Tamique atau Tom anak bungsu tamatan S1 pertanian di salah satu perguruan tinggi swasta. Saat ini lebih banyak menggeluti dunia Komputer ketimbang pertanian dan sekarang sedang mengejar S2. Panggilan sehari-hari adalah Tamik lalu dipoles biar keren menjadi ‘Tamique’ yang tahun 2008 ini berusia berusia sekitar 44 tahun.


Cerita tentang nama aslinya ada beberapa cerita menarik bahkan kadang lucu. Dulu kata Tamique, ibunya menginkan anak yang lahir adalah perempuan seperti kebanyakan ibu-ibu yang lain kalau sudah memiliki anak laki-laki semua, tapi yang muncul kedunia adalah laki-laki lagi, mungkin karena nama sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, akhirnya nama itu lah yang digunakan untuk bayi mungil laki-laki itu dan terus melekat sampai hari ini.
****
Kampus baru yang berlantai tiga itu terdiri dari tiga bagian gedung yang berdiri terpisah kokoh membentuk huruf ‘U’. bagian dalam ‘U’ tersebut merupakan lapangan luas yang dijadikan taman. Beberapa pohon ‘akasia’ (Acacia villosa) tumbuh rindang dibeberapa tempat sehingga lanpangan yang luas itu menjadi tempat berteduh yang nyaman. Masing-masing gedung digunakan oleh fakultas Ekonomi, Fisipol, FKIP dan Hukum seolah pagar tembok raksasa yang mengelilingi lapangan luas. Beberapa fakultas lain berada di lokasi yang berjarak sekitar 15-20 km yang mereka namakan kampus I untuk Fakultas Pertanian dan kampus II untuk Tehnik yang keduanya merupakan kampus lama.
Di sisi lain gedung-gedung tersebut terdapat beberapa gedung lainnya. Di bagian barat merupakan gerbang pintu belakang merupakan areal yang juga tak kalah luasnya terdapat kantin tempat yang biasa digunakan mahasiswa untuk bersosialisasi atau sekedar bercengkrama, memiliki bentuk memanjang. Dinding terbuka sebatas pinggang orang dewasa dan pada bagian atas dinding tersebut dilindungi kain gorden sehingga kalau dilihat dari luar kantin hanya sedikit kepala saja yang menyembul. Pada bagian depannya dipenuhi oleh kursi dan meja berbaris teratur tempat duduk pengunjung kantin.
Berdekatan dengan kantin berjarak sekitar 10 meter berdiri gedung radio kampus yang memiliki beberapa tiang pemancar didepannya yang salah satunya menjulang keatas seolah pensil raksasa yang akan menulisi langit.
Di seberang kedua bangunan ini terdapat lahan parkir kenderaan untuk sepeda motor dan mobil yang dipisahkan oleh jalan lurus memanjang, permukaannya jalan tersebut diberi ‘pavingblock’ menuju arah gerbang keluar yang terdapat pos security .
Di sisi menghadap ke timur terdapat Gedung Biro akademik dan pada bagian depan utamanya merupakan gedung rektorat berlantai tiga dimana lantai dua digunakan sebagai ruang pertemuan. Sebelah kanan terdapat pula Masjid Kampus yang megah dan luas.
Hari itu merupakan hari pertama perkuliahan, suasana kampus yang begitu ramai dipadati oleh mahasiswa baru, juga mahasiswa lama yang hilir mudik dengan urusan masing-masing. Beberapa mahasiswa tampak memasuki ruang biro akademik, loket pembayaran uang kuliah bahkan ada juga yang bergerombol ditengah taman sambil mendengarkan salah seorang dari mereka menjelaskan sesuatu kepada rekan mereka yang lain sambil tangannya digerakan ke kanan dan kekiri seperti senam pagi, tampak pula beberapa mahasiswi hanya berdiri di depan raung biro akademik sambil sesekali salah satu dari mereka memencet tombol hape mungkin sedang menunggu temannya yang lain atau menunggu pacar nya barangkali he..he..he...
Di depan Biro akademik terdapat taman luas yang ditumbuhi halaman taman ada juga yang memanggil-manggil temannya diseberang lapangan depan kampus, yang membuat orang disekelilingnya kadang menoleh melihatnya (mungkin mereka pikir ada yang tawuran he…he..he..).
Di Fakultas Fisipol tampak beberapa mahasiswa memasuki kelas sambil berbincang dan saling berkenalan satu sama lain. Ruang tersebut berada di lantai II. Tanpak seorang mahasiswa bergegas mendahului beberapa orang mahasiswa tadi sambil membawa beberapa buku dan map. Lalu setelah yakin akan ruangannya diapun masuk kedalam dan meletakan map tadi di meja dosen yang sudah rapi beralaskan taplak meja berwarna putih dan hiasan pas bunga kecil di pojok kanan meja tersebut. Ruangan tampak sepi, hanya bangku-bangku berjejer tersusun rapi dan whiteboard putih bersih dipajang di depan ruang kuliah itu.
Setelah meletakkan daftar hadir mahasiswa, maka dia pun duduk di banku bagian paling belakang. Ruangan tanpak masih sepi karena mahasiswa yang lain masih belum masuk ke ruangan.
Selang beberapa menit kemudian masuk beberapa mahasiswa lain ke dalam ruangan disusul dengan yang lain lambat-laun membuat ruangan yang tadinya sepi menjadi sedikit gaduh. masing-masing dari mereka mencari tempat duduk sambil sedikit cekikikan dan saling ledek apabila ada yang saling berebut tempat yang sama. Lalu satu persatu menempati bangku kosong diruangan itu. Namun suasana ruangan masih sama seperti tadi berisik! Karena masing-masing mahasiswa baru itu saling berbicara satu sama lain ada saja yang dibicarakan mereka. Dosen yang mengajar saat itu masih belum juga muncul diruangan kuliah. Lalu tiba-tiba seorang mahasiswa yang duduk di bangku paling depan berdiri menghadap ke belakang seolah seorang aktivis yang lagi berdemo menyemangati rekan-rekannya.
“Perhatian-perhatian…!” tiba-tiba dia berbicara lantang sambil mengakat kedua tangannya keatas seperti menepuk nyamuk yang membuat ruangan yang tadinya berisik, tiba-tiba menjadi sepi sesaat. Semua mata memandang kepadanya penuh dengan tanda tanya.
“Perkenalkan, Namaku Wahyudin. Panggil saja aku Wahyu” katanya lagi. Tiba-tiba ada pula yang menyela dari arah tengah sepertinya suara seorang seorang mahasiswi.
“Bagaimana kalau kami memanggil Udin alia udara dingin!” katanya tak kalah lantangnya yang membuat ruangan yang tadi hening menjadi gaduh kembali karena suara mereka lepas tertawa bersamaan, ada yang hanya senyum-senyum saja sambil berbicara kepada rekannya dibangku sebelah.
“Oke…oke…tenang..tenang…dengar kawan-kawan” katanya pula membalas, berusaha mengalahkan suara-suara yang ada di ruangan itu. Lalu setelah agak reda dia pun melanjutkan.
“Aku tadi melihat di daftar hadir kita, yang mengajar kita seorang dosen wanita namanya ibu Ir. Nurhataimi” katanya lagi.
“Lalu kenapa?” rekannya yang tadi menyela kembali membalas bertanya.
“Ehm…maksudku, ibu dosen itu cantik ngak ya?” katanya lagi malu-malu.
“huhhh…hu….hu….” serentak suara koor mahasiswa terdengar merdu memenuhi ruangan kuliah. Lalu suara tertawa dan cekikikan kembali terdengar bahkan ada beberapa dari mereka yang melempar gulungan kertas ke arah depan membuat ruangan kembali gaduh layaknya ruangan mahasiswa yang sudah lama saling kenal saja.
Lalu dari arah bangku paling belakang, seorang mahasiswa berkacamata minus berperawakan perut agak sedikit kedepan dan tinggi sekitar 160 cm (kalau ukuran normal termasuk lelali ‘pendek’) berjalan ke depan kelas sekilas tersenyum memandang kekiri dan kekanan menebar pesona kesemua mahasiswa disana yang memandang penuh tanda tanya. Tak ayal Wahyudin juga yang sebelumnya berdiri didepan tadi ikut terpaku, heran memandang mahasiswa yang baru saja berjalan dari arah kebelakang tadi. Tampaknya mahasiswa tadi akan menghapirinya. Benar saja. Setelah berada di depan si Mahasiswa tadi menepuk pundaknya pelan lalu berkata.
“Ok, sudah kamu boleh kembali ke tempat sekarang”, katanya pelan.
Lalu tanpa basa-basi Wahyudin akhirnya balik ke bangku semula penuh tanda tanya. Suasana perlahan hening. Yang ada dibenak mereka hanya tanda tanya tentang mahasiswa ini. Apakah Asisten dosen pikir mereka, suara bisik-bisik terdengar diantara mereka.
“Assallumallaikum warahmattullah wabarakattuh!” salam yang diucapkannya olehnya kemudian yang selalu diwali setiap kelas dimulai di Kampus ini disambut salam dari mahasiswa serentak menggema mengisi rongga ruang kuliah.
“Baiklah, ini hari pertama kita kuliah. Perkenalkan, nama saya Ir. Nurhaitami yang akan mengajar di kelas ini untuk mata kuliah pengantar Ilmu Komputer” katanya memperkenalkan diri. Mereka terdiam masih bingung, heran apalagi Wahyudin yang tadi kembali ke bangkunya saat ‘orasi’ nya belum selesai. Mati aku! Pikirnya.
“Ma’af pak, jadi Ir. Nurhaitami itu bapak?” Tanya wahyudin memberanikan diri untuk meyakinkan dirinya.
“Benar, dari dulu juga saya gak berubah” katanya untuk mencairkan keadaan yang hening.
“Makanya jangan lihat nama, tapi wajah” katanya bercanda yang membuat grrr..rrrr..ruangan kuliah. Dan sepanjang hari pertama perkulihan jam pertma menjadi catatan tersendiri di hati mereka bersama Tamique, Tamique dalam menyampaikan matakuliah selalu santai yang membuat mahasiswa semakin akrab dengannya, prinsipnya dalam memberikan materi kuliah ‘serius tapi santai’. Tak heran hampir semua mahasiswa mengenalnya dengan baik!
Banyak cerita-cerita yang ‘kurekam’ dalam memory di kepalaku yang secara garis besar masih ingat. Dia menceritakannya pada saat kami ngobrol mengisi waktu-waktu senggang sehabis rutinitas kerja. Salah satu yang masih segar seperti yang kuceritakan diatas tadi.
****
Siang itu kupandangi Tamique yang sedikit berbeda wajahnya, kurus! beberapa waktu lalu di rumah sakit masih bugar, kini berbaring lemah di rumahnya tanpa ada selang inpus dan alat pendeteksi jantung lagi. Ruang tamu yang berukuran 3x5 itu masih terdapat beberapa kursi tamu, pada salah satu sudut tubuh kurus Tamique dibaringkan disana dengan kipas angin berukuran kecil menghembuskan udara mengarah kepadanya. Kedua tulang pipi sedikit menonjol dan matanya kuyu membuat usianya kelihatan jauh dari yang sebenarnya. Kakinya sebelah kiri tidak dapat digerakkan begitu juga dengan tangannya.
Kucoba untuk mengajaknya berbicara, namun tidak ada jawaban. Hanya mata dan anggukannya saja seolah ingin mengajak ku berbicara banyak. Sesekali dia mencoba menggerakkan kedua bibirnya untuk berbicara mungkin sekedar menyapa pikirku, namun tak ada kata-kata yang bisa dikeluarkan hanya sesekali tangannya diangkat memberi tanda yang kusambut dengan kalimat-kalimat yang membuatnya menggangguk tanda mengerti kadang banyak yang tidak kuketahui maksudnya. Kadang aku bercanda ingin membuatnya tertawa lepas seperti dulu, namun yang kulihat hanya ekresinya wajahnya sedikit menyeringai.
Tamique yang dulunya begitu periang dan tidak pernah berhenti beraktifitas, kini hanya diam membisu tak ada yang bisa terus-menerus mendampinginnya hanya sepi! saat-saat seperti ini semua sibuk dengan aktifitas sehari-hari. Kalau ingin buang air kecil sudah disediakan pispot disampingnya. Kalau ingin memanggil seseorang sudah disediakan ‘kincringan’ mainan anak-anak yang dia goyangkan dengan sebelah tangannya sehingga terdengar suara bergemericik tanda memangil seseorang siapa saja yang berada dirumah saat itu.
***
Ada hikmah yang kuambil dari keadaan Tamique saat ini. Ya, kenikmatan hanyalah titipan yang pada saatnya akan diambil kembali dari kita. Semakin bertambah usia mau tidak mau kenikmatan yang kita miliki akan semakin berkurang, lihatlah sepasang mata kita yang indah adalah indra yang kita miliki yang semakin hari akan semakin rabun, sehingga harus dibantu oleh kacamata dan mungkin banyak hal lainnya.
Melihat kondisinya, seperti kebanyakan penderita strook, hanya sedikit harapan untuk pulih seperti semula, walaupun aku pernah beberapa kali bermimpi dalam tidur berbicara dengan Tamique tentang penyakitnya. Bahkan salah satu mimpi itu dia berbicara lewat hape mengatakan bahwa penyakitnya sudah sembuh, hanya kakinya yang agak tertatih kalau berjalan! Aku tidak tahu pertanda apa, hanya keajaiban saja yang kurasakan saat ini yang bisa mengembalikannya seperti semula. Mudah-mudahan dengan terapi ‘sinshe’ yang dilakukan setiap 2 hari sekali bisa mengembalikannya minimal seperti mimpi-mimpi ku itu. Amin!
Kolesterol dan Strook adalah momok yang sangat menakutkan dewasa ini. Kolesterol kalau menurut pakar kesehatan merupakan kadar lemak dalam darah yang dihasilkan dari makanan yang kita konsumsi setiap hari secara berlebihan sehingga menaikkan kadar lemaknya.
Mungkin tanpa kita sadari kita saat ini kita sudah atau sedang menimbun lemak tersebut lihatlah kebiasaan makanan kita seperti gorengan yang menggunakan minyak kelapa/kelapa sawit, alpukat, durian, daging berlemak, jeroan, kacang tanah dan sejenisnya yang semuanya merupakan pemicunya.
Lihatlah makanan-makanan yang mengoda itu seperti gorengan yang biasanya kita santap saban sore dengan teh manis atau kopi hangat atau nikmatnya durian yang harumnya sangat menggoda indra penciuman mau tidak mau kita harus mengurangi secara perlahan atau berhenti sama sekali. kalau ini terjadi, bukan tidak mungkin kolesterol jahat yang berupa lemak seperti lilin itu yang dapat berpotensi menumpuk/menempel di sepanjang dinding pembuluh nadi koroner. Nah kalau sudah seperti ini penyempitan dan penyumbatan aliran darah (arteriosclerosis) tidak akan terhindari, Akibatnya jantung kesulitan memompa darah dan timbul rasa nyeri di dada, suka pusing-pusing dan berlanjut ke gejala serangan jantung mendadak. Bila penyumbatan terjadi di otak, maka yang diderita adalah strook dan bisa juga menyebabkan kelumpuhan dan mungkin ini yang terjadi dengan Tamique!
*****

PS, 23 Oktober 2008
Untuk sahabatku,

Ir. Nurhaitami


10.10.2008

Tamique (Episode III), Blog Tom

Seperti biasa, setiap pagi setelah masuk kantor ritual yang pertama kulakukan setelah komputer dinyalakan adalah membuka email di Outlook. Kulihat inbox ada beberapa email yang masuk salah satunya dari Tamique dengan nickname omtom06@yahoo.co.id Dengan subject cara membuat Blog. Lalu kubuka email tersebut.

“…aku sekarang lagi membuat blog, mohon dikirim informasi tentang dasar-dasar membuat blog.”
Salam
Tom


Email tersebut singkat saja hanya beberapa baris. karena sebelumnya aku sudah pernah ‘kampanye’ kepadanya untuk menulis blog. Setelah mendapatkan beberapa informasi penting tentang dasar-dasar membuat blog, lalu aku pun me-reply email tersebut dengan file ‘attach’ yang sudah kupersiapkan sebelumnya.
‘Tom’ adalah nama lain atau nickname yang sering digunakan oleh Tamique akhir-akhir ini. Aku sebelumnya tidak begitu peduli karena dia selalu berganti-ganti nama yang terakhir adalah ‘Tamique’, tapi belakangan aku jadi penasaran juga dibuatnya karena semua rekan bahkan mahasiswa di kampus semua memanggil Tom, Pak Tom dan om Tom. setelah tanya sana-sini, nah ternyata ‘Tom’ itu sebenarnya diambil nama popular dari salah seorang tokoh dalam film drama Taiwan ‘Meteor Garden’ yang diadaptasi dari manga HANA YORI DANGO itu,” Dao Ming Si” (para penggemar MG paling sering kudengar menyebutkan nama ‘Dao Ming Si’ dipelesetkan menjadi Tom Ming Se’ he..he…).
Tamique adalah seorang yang ‘aneh’, dia hidup dalam lingkungan dunia pendidikan tetapi memiliki sifat populer yang selalu tampil di tengah ‘keramaian’ bak seorang artis terkenal. Tak heran semua mahasiswa dilingkungan kampus tempat dia mengajar sangat bersabahat dengannya bahkan tak jarang yang memanggilnya dengan sapaan ‘om’ bukan ‘pak’ layaknya seorang mahasiswa memanggil dosennya. Munkin itu pula yang membuat emailnya di yahoo menjadi ‘omtom06@yahoo.co.id pikirku.
Selang beberapa hari kemudian, aku sudah dapat melihat blog yang sudah dibuat oleh Tamique dengan alamat url http://berpantasitom.blogspot.com/
Pada tampilan heading blog terpampang photo Tamique dan tertulis ‘Kamar mbah dukun’ ha…haaa…aa.. apa pula maksudnya ini pikirku.
Tampilan blog masih standar saja dari blogspot tanpa ada dimodifikasi sana-sini.
Kulihat ada beberapa postingan tgl 30 Juli 20007, semua nya ditulis Tamique tentang catatan keluarganya, istri dan anak-anaknya. Tapi ada satu postingan di hari yang sama judulnya ‘Sebuah Memory’ cuit..cuit…sapa ne iseng aku pun menulis komentar pada postingan itu. Pada saat bertemu dengan Tamique aku pernah menanyakan tentang postingan ini karena penasaran, tapi dia tidak menjawab, malah tertawa kuat ha…ha…ha, akupun ikut tertawa ha…ha…ha…setelah itu bingung sendiri kenapa juga ikut tertawa.

Postingan Tamique terakhir di Blog adalah pada hari Selasa, 27 Mei 2008 subject nya BLT ....OH...BLT yang istilah ganteng nya kata Tamique di postingan itu ‘BLT-bantuan tunai langsung’ disana Tamique menulis bak seorang politikus membahas ide-ide cemerlang dan kritikan yang menohok sampai Strook menyerang nya.
Aku tidak tahu apakah ini postingan terakhir Tamique atau akan nada lagi postingan-postingan yang lain darinya. Aku cuma bisa berharap walaupun kecil , tapi aku masih punya harapan semoga Tamique bisa ngeblog lagi . Amin!

Bersambung ke bagian IV (habis)


10.05.2008

Tamique (Episode II), Di Rumah Sakit


Aku semakin penasaran, kenapa bisa terserang strook! Itu yang selalu masih tanda tanya dibatinku tidak percaya, apakah dokter salah diagnosa, ah rasanya tidak mungkin dokter salah!
Yang kutahu strook adalah terjadinya penyempitan pembuluh darah menuju ke otak yang disebabkan berbagai faktor sehingga darah yang seharusnya dialirkan tidak dapat bekerja dengan normal yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah tersebut, biasanya efeknya adalah kelumpuhan sensorik atau sistem pengerak tubuh dan dilanjutkan dengan terjadinya kehilangan kesadaran. Otak adalah bagian terpenting dari tubuh manusia yang tidak dapat menyimpan energi. Otak bertanggung jawab mengendalikan semua organ tubuh manusia seperti berpikir, bergerak dan bereaksi. Untuk melakukan semua ini diperlukan energi.

Untuk mendapatkan energi, Otak mendapat pasokan dari bersirkulasi darah yang yang terus-menerus dipompa dari jantung melalui pembuluh arteri bersama oksigen didalam darah dan nutrisi menuju ke otak sehingga semua bagian tubuh tadi dapat bekerja terus-menerus sepanjang hari tanpa ada jeda. Kalau kita mencoba menganalogikan dengan mesin, dalam tempo satu tahun tanpa di service secara berkala mungkin jantung manusia sudah jim sejak lama, sulitnya membayangkan hal ini apa lagi aku bukan kuliah di kedokteran!.
Keep Your health, teman!
Kucoba menghubungi nomor hp Tamique mudah-mudahan istri atau anaknya yang menjawab untuk sekedar mendapat informasi lain untuk menghilangkan rasa penasaranku. Karena untuk langsung menjeguknya aku belum bisa karena ini masih hari Selasa, aku masih harus kerja mungkin 3 hari kedepan baru bisa menjeguknya di rumah sakit.
Karena nomor hpnya tidak bisa dihubungi, maka aku mencoba mencari informasi dari rekan-rekan kerjanya yang aku kenal. Kulihat di phonebook ada satu nama yang juga rekan Tamique di kampus, beliau sebagai kepala biro administrasi umum. Ternyata nomor ini sudah tidak aktif! Kupkir mungkin nomornya sudah berganti. Karena nomor ini sudah lama sekali tidak pernah kuhubungi. memang sudah hampir 3 tahun tidak pernah mengunjugi kampus. Sehingga komunikasi dengan kawan-kawan disana nyaris tidak ada. Kadang datang ke kampus hanya sekedar untuk bertegur sapa saja. Akhirnya satu hari aku estafet untuk mencari informasi nomor-nomor hp rekan lain akhirnya usahaku tak sia-sia, sore hari aku mendapatkan informasi.
“Assallamullaikum!” ucapku setelah nomor tersebut tersambung.
“Waallaikumsallam, apa kabar pak!” jawaban dari seberang sana.
“Pak Lufti, kabarnya pak Tamique sakitya?” tanyaku lagi.
Lufti adalah salah satu rekan Tamique yang juga Dosen di Universitas Muhammadiyah. Mereka disamping mengajar, juga sekarang sama-sama sedang mengambil program S2.
“Iya, pak !” jawabnya singkat. Aku pun bertanya lebih lanjut kepadanya untuk mendapat informasi lain.
“Bagaimana kejadiannya pak sepertinya sangat tiba-tiba sekali ya!”
“Saya juga mendapat informasi ini dari mahasiswa saya Pak melalui sms, karena sekarang saya sedang berada di luar kota sudah dua hari yang lalu, jadi saya kurang tau persis kejadiannya. Tapi coba bapak hubungi ke pak Yudi, mungkin beliau lebih banyak tahu” jawabnya panjang sambil memerikan nomor hp yang dimaksud. Akupun bergegas mencatat nomor tersebut pada secarik kertas sambil membaca ulang dan memastikan kepada Lufti agar tidak salah catat. Setelah yakin dengan nomor tersebut, lalu kutekan tombol-tombol angka tersebut. Tak lama menunggu akhirnya nomor tersebut tersambung!.
“Hallo!” sapa ku singkat.
“Ya hallo, selama sore!” jawab suara dari seberang sana.
“Pak Yudi ya”, tanyaku.
“Benar Pak, saya bicara dengan siapa ya?”Tanya nya pula.
“Ini saya pak, Surya!” jawabku singkat. Hening sejenak, sepertinya dia mencoba mengingat namaku.
“Teman Tamique, yang dulu bikin program komputer Akademik” jawabku memberi penjelasan agar bisa mengingatku dengan cepat.
“Ya, eh mai fren (my friend, maksudnya), apa kabar lama tak ba-su e!” jawabnya dengan bahasa yang dicampur-campur menyalahi EYD bercanda. Dengan Yudi aku juga kenal tapi tak seperti kedekatan aku dengan Tamique tapi sering juga bercanda, dahulu dia bekerja dibagian Biro Akademik Universitas Muhammadiyah, tapi sekarang aku sudah tidak tahu pasti jabatannya, yang setiap berjumpa dia selalu menyapa dengan bahasa Inggris yang dicampur-campur dengan bahasa lain sehingga lucu kedengarannya. Biasanya kalau bertemu dengan ku selain mai fren atau kadang how are you, lamo tak basue (lama tak berjumpa dalam bahasa minang), my brother. Itu kata-kata yang sering meluncur dari mulutnya.
“Baik!” jawabku singkat. Lalu aku pun langsung menanyakan tentang Tamique kepadanya tanpa basa-basi lain.
“Yud, aku mendapat informasi dari ponakanku yang Kuliah di sini (Universitas Muhammadiyah, maksudku) katanya Tamique terserang strook ya, apa benar?” tanyaku tak sabar.
“Iya, kejadiannya kemarin, saat jam istirahat kami lagi di kantin, kebetulan suasana kantin saat itu juga tidak terlalu ramai. seperti biasa kami ngobrol tentang keadaan kampus, penerimaan Mahasiswa tahun ajaran baru, lalu tentang anak Tamique yang sulung yang sekarang sudah mulai masuk es em u” Yudi menjelaskan.
“Tapi tiba-tiba saja Tamique bilang dia agak pusing kepalanya, aku sarankan minum obat tapi dia bilang enggak apa-apa.”
“kuperhatikan memang saat itu wajahnya cemas dan sebentar-bentar tangan kanannya menekan-nekan dadanya yang sebeleah kiri, lalu dia menundukan kepalanya ke atas meja kantin beralaskan tangan kirinya seperti mahasiswa yang sedang ngatuk mendengarkan mata kuliah yang membosankan. belum sempat aku menanyakan yang lain dia limbung jatuh di sisi meja tapi untunglah ada seorang mahasiswa yang mejanya berendeng disebelahnya melihat dan langsung menangkapnya sebelum terseungkur ke lantai semen. Akhirnya Tamique tak sadarkan diri, saat itu juga dengan dibantu beberapa rekan yang lain yang berada di kantin kami bawa kerumah sakit terdekat Rumkit KODAM“. Jelas Yudi mendetail.
Ternyata informasi dari keponakanku tempo hari sudah semakin menyakinkanku atas informasi tambahan dari Yudi ini. Menurut informasi dari Yudi pula keketahui bahwa Tamique kecewa atas prestasi anak sulungnya yang tidak dapat masuk ke sekolah SMU negeri sehingga menjadi beban pikiran nya. Tapi kalau menurut penilaianku pribadi hal ini bukanlah hal utama yang menyebabkan dia terserang strook. Karena Tamique tak pernah membesarkan masalah-masalah yang serius. Aku yakin ada hal-hal lain yang membuatnya menjadi seperti ini!
Hari sabtu sore aku dan dua teman ku yang juga mengenal Tamique kuajak untuk untuk membesuknya di rumah sakit. Mobil kami meluncur dan tiba sekitar pukul 17.30 wib. Kami pun langsung menuju ruang ICU tempat nya di rawat. Dengan berbekal informasi di bagian UGD kami menuju rang tersebut. Dan salah ruang! Ternyata yang kami masukkin adalah ruang ICU biasa. Khusus untuk yang strook terpisah dua ruang dari ruang tersebut.
Setelah mendapat izin masuk, akhirnya kami memasuki ruang ICU khusus strook. Aroma cairan obat-obatan yang menyeruak sangat menyengat hidung sudah terasa pada saat pintu ruangan tersebut terbuka menyambut kami.
Lalu kami pun masuk setelah sebelumnya membuka sepatu dan berganti pakaian khusus yang telah disediakan. Sepi! yang kudengar adalah suara tit..tit..tit dari beberapa alat diruangan tersebut tak ada suara manusia yang berbicara, beberapa tempat tidur lain berjejer tiga buah yang juga terbaring pasien strook lainnya. Jarak pasien yang satu dengan yang lain tidak ada penyekat dan hanya berjarak setengah meter, sehingga jelas terdengar apabila salah satu pasien tersebut ada yang mengeluh atau kadang mengerang sehingga menambah suasana ruangan yang kurasakan sangat mencekam! Kami hanya terdiam.
Kulihat Tamique berbaring pada tempat tidur pertama dekat pintu masuk dengan selang oksigen yang terpasang pada bagain hidung. Pada bagian dada kiri dan kanan dipasang alat untuk pendeteksi denyut jantung, kaki kiri juga dipasang alat untuk memantau interaksi gerakan kakinya. Kupandangi sekujur tubuhnya mulai dari atas kepala sampai ujung kaki seolah ingin membaca kondisinya saat itu. Kulihat matanya terpejam dengan bagian kepala yang agak tegak. Alat pendeteksi jantung terus berbunyi tit…tit…tit…seirama denyut jantungnya.
Anak sulungnya juga berdiri disampingnya, sebelumnya ada diluar ruangan ikut masuk mengantar kami menjenguk kedalam ruangan. kulihat matanya sembab sambil memegang hp yang kadang berdering, mungkin dari saudara atau dari kerabat yang ingin mengetahui kondisi ayahnya batin ku.
Melihat kondisi Tamique yang berbaring tak berdaya dengan matanya yang tertutup, aku tak dapat berkata apa-apa mulutku seakan tercekat, ada yang mengganjal. Teringat oleh ku dua minggu yang lalu sebelum terserang strook, dia menelponku untuk menanyakan tentang trik pembuatan program aplikasi visual basic seperti biasa kalau berbicara Tamique selalu bersemangat dan berapi-api seperti pejuang tahun 45 yang lagi membicarakan tentang arti merdeka untuk bangsa ini, dan kadang tak lupa diselingin dengan lelucon, sekarang!aku hanya memandanginya tak percaya. Strook! Kata itulah yang selalu muncul dikepala apabila mengingatnya. Kucoba berkomunikasi dengannya dengan memegang tangan dan bagian kakinya seperti dokter yang memeriksa seorang pasien, kutekan sedikit pada bagian kakinya. Lalu kupandangi wajahnya ada reaksi sedikit sewaktu kutekan tadi, lalu kupanggil namanya beberapa kali.
“Tamique…miq…Tamique” sapaku pelan.
“Ini aku! datang sama teman-teman. Pak Erwin dan Pak Rudi, masih ingatkan!” kataku lagi mencoba menyapanya untuk memastikan kondisinya. Lalu kepalanya sedikit menangguk beberapa kali lemah, namun matanya tetap tidak terbuka, aku tidak tahu apa yang dirasakannya. Yang kulihat ada airmata yang mengalir perlahan dikedua pelupuk matanya menambah kesedihan dan rasa empatiku saat itu. ada sejuta kecewa dan penyesalan yang bercampur aduk didalam hatinya pikirku mencoba membaca. Dan lagi Tamique adalah tipe periang sehingga sulit baginya menerima kenyataan seperti ini. Kualihkan pandanganku kearah anaknya yang masih berdiri di sampingnya yang membisu sejak tadi. Kulakukan ini hanya sekedar untuk mengalihkan persaanku yang juga tidak menentu saat itu. Menurutnya kaki dan tangan sebelah kiri tidak dapat digerakkan. Begitu juga dengan mulutnya tak ada sepatah katapun yang dapat keluar dari sana. Hanya erangan lemah dan gerakan tangan kanannya saja yang dapat dilakukannya saat ini apabila ingin memanggil atau ingin berbicara. Dan menurut informasi dari team medis rumah sakit, dokter membatalkan rencana operasi terhadap Tamique karena kondisi jantungnya yang tidak stabil!


9.18.2008

Tamique

Sekedar untuk mengingat seorang kawan, sahabat ku Tamique yang sekarang terbaring lemah melawan sakit yang dideritanya strook! kususun rangkaian cerita ini sebagai ungkapan dari hatiku untuk turut berduka, kawan!
:(
Episode : I, SMS Yang mengejutkan!

Tiba-tiba hanphone ku dikamar berdering menyalak yang nyaris sama dengan suara telpon rumah kemudian disauti alunan merdu dari penggalan reff. lagu Lionel Richie Hello wow bukan main! Dering ini kubuat beberapa waktu lalu dengan menggunakan oldring dari hp dan file lagu dari mp3 yang sudah cut pada bagian di reffrein nya saja. Kemudian dengan menggunakan sound recorder yang ada di MSWindows. Lalu dengan menggabungkan kedua file tersebut jadilah satu ringtone baru!. Untuk yang satu ini memang hobby yang sangat menarik bagiku. Dari instrument sampai lagu lama alm. Benyamin S hujan gerimis sampai lagu sang kodok pernah ikut meramaikan ringtone di hp ku itu. Bosan ringtone yang satu ganti dengan dengan yang lain, biasanya paling lama bertahan dua minggu, ringtone sudah berubah.
Bergegas kuangkat handphone tersebut, kulihat di layar tertera nama Tamique lalu belum sempat sempat kusapa dengan kata hallo, suara dering hp terputus.
Kulirik jam di dingding, pukul 21.15 wib. Diluar rumah udara sangat dingin, maklum dilingkungan tempat tinggalku di kelilingi oleh pohon-pohon karet milik perkebunan. Ku pikir ada apa ya malam-malam begini nelpon? Tapi sudah lah besok saja di telpon balik Pikirku. Akupun balik kembali ke ruang keluarga untuk melihat acara tv.


Selang beberapa menit kemudian kembali hp ku berdering seperti tadi. Bergegas aku kembali kemar, si Tamique lagi! batin ku.
“hallo!” kataku.
Tidak ada suara menjawab di seberang sana. Lalu sambungan kembali terputus, akhirnya karena penasaran ku call balik panggilannya tersebut. Biasanya temanku yang satu ini jarang-jarang nelpon malam hari. Jarak rumah kami memang berbeda kota, sekitar 150 km. Kutunggu beberapa saat, lalu panggilan tersambung.
“Hallo” kataku. Tak ada balasan.
Kudengar di seberang sana beberapa suara anak-anak kecil yang saling bercengkrama. Ada yang berteriak, ada yang memanggil nama kawan nya yang lain. Terdengar juga olehku suara sepeda motor yang melintas. Kebetulan teman ku ini tinggal di jalan, tepatnya gang yang padat. Jalan tersebut tidak begitu panjang. Sekitar 300 meter dan lebarnya 2.5 meter saja. Antara sisi-sisa jalan hanya ada parit kecil 30 cm dengan kedalaman 60 cm saja. pagar rumah yang berderat disepanjang jalan tersebut pas beberapa cm saja dari parit. Dengan bentuk bangunan rumah disekitar pemukiman tersebut yang satu sama lain tidak memiliki kesamaan, sehingga tak jarang ada rumah yang salah satu tembok dinding nya disana sampai pinggir parit.
Salah satu ujung jalan nya bersimpangan dengan jalan raya, sementara ujung jalan yang satu bersimpangan dengan jalan kecil saja. Sehingga kalau ada dua mobil yang melintas berlawanan arah, maka jalan tersebut akan susah sekali dilewati ditambah lagi orang-orang yang lalu lalang, lain lagi becak yang juga kadang ikut melintas. Belum lagi sepeda motor yang tak kalah banyaknya, menambah sesak saja.
Sehingga mobil yang sudah terlanjur masuk belakangan tadi harus harus berjalan pelan mepet kepinggir jalan atau mencari tempat yang agak lebar sehingga bisa masuk kesana untuk memberi ruang sedikit untuk mobil yang masuk duluan, sehingga bisa lewat. Kalau sudah begini biasanya akan mulailah muncul kebiasaan yang sering kita ihat sehari-hari di jalanan macet. Apalagi kalau bukan ramainya pengendara yang saling membunyikan klakson kenderaan masing-masing!
Tak heran malam-malam begini masih ramai saja.
Kutunggu lama dering hp temanku tersebut. Selang beberapa saat kemudian ada jawaban dari seberang sana, suara wanita !
“Nomor yang anda hubungi tidak menjawab, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi nada berikut!”.
Akhirnya kumatikan panggilan tersebut dan akupun kembali ke ruang keluarga.
Esoknya aku seperti biasa, pagi berangkat kerja dengan sepeda motor. Kebetulan rumah dan tempat kerja tidak begitu jauh jarak. Hanya sekitar 1 km saja, sehingga tidak perlu terburu-buru untuk sampai ke sana. Sampai dua hari berikutnya sudah berlalu , namun aku tidak teringat untuk menelpon tamique. Biasanya kalau ada sesuatu hal yang penting untuk di hubungi, aku selalu mencatat pada ‘reminder’ pada hpku atau kalau sedang malas hanya mencatat pada secarik kertas kecil kemudian kuselipkan di kantong baju yang sudah dipersiapkan sebelum berangkat kerja. Esoknya siang setelah aku sampai ditempat kerja, aku menerima sms dari keponakan ku yang isinya sangat mengajetkan!
“Om Tamique siang tadi masuk rumah sakit, strook!” berulang-ulang kubaca sms tersebut tidak percaya. Ah benarkah dia kena strook! Padahal usianya masih 43 tahun. Yang terbayang olehku adalah strook, biasanya dialami oleh seseorang yang sudah berusia diatas 50 tahun.ini karena seringnya kulihat. dan kebetulan kakek ku, ayah dari ibuku juga mengalami strook pada usia hampir mendekati 60 tahun. Dan juga sering nya kulihat beberapa penderita tersebut yang mengalaminya hal tersebut setelah beberapa tahun pensiun dari masa kerja atau ‘post power syndrom’.
Aku semakin penasaran terhadap kawanku yang satu ini, tamique orangnya periang, mudah bergaul dan sangat sosial terhadap teman-teman. Karena kepribadiannya tersebut sehingga rekan-rekan kerjanya dan lingkungan kampus semua mengenalnya, mulai dari satpam, penjaga kantin, dosen, dekan, rektor apalagi mahasiswa semua mengenalnya.
Kutelpon keponakan ku tadi. Setelah beberapa saat menunggu
“Assallamuallaikum! Hallo Tika, kapan om Tamique masuk rumah sakitnya dan dimana di rawat sekarang” tanyaku tanpa basa-basi.
“Waallaikumsallam, di rumah Sakit KODAM om, sekarang masih di ruang ICU” katanya.
“Apa memang kena strook!” aku mencoba mencari ketegasan dari keponakan ku itu.
“Iya om, kemarin dia pingsan di kampus, terus dibawa ke rumah sakit, kata dokter strook” lanjutnya.
“Ya sudah, terima kasih ya, Assallamuallaikum ” jawabku singkat mengakhiri.
....BERLANJUT KE EPISODE II : di Rumah Sakit